Skip navigation

PENGERTIAN DAN KONSEP

1. Pengertian Budidaya

Budidaya merupakan pengusahan secara intensif dan berkesinambungan melalui manajemen yang profesional dan integratif dimana setiap elemen didalamnya bekerja bersama-sama demi sebuah tujuan.

Dilihat dari pengertian di atas, maka budidaya laut adalah upaya manusia, menggunakan input tenaga kerja dan energi, untuk meningkatkan produksi organisme laut dengan cara memanipulasi pertumbuhan, mortalitas dan reproduksi, dimana, dalam pelaksanaanya, diperlukan suatu manajemen sehingga tercapainya tujuan bersama.

2. Sejarah Budidaya

Budidaya laut mempunyai sejarah yang panjang sejak 2.000 tahun sebelum Masehi ketika orang di Jepang memulai pemeliharaan tiram laut (oyster). Awal budidaya laut atau marikultur di Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton-Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong. Adapun perkembangan budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA) dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai di Gondol Bali.

3. Pentingnya Budidaya

Dengan melakukan budidaya laut, akan membantu dalam menjaga kelestarian ekosistem tanpa merusak ataupun menguranginya. Selain itu, Indonesia yang merupakan ‘mega biodiversity’, usaha budidaya laut dapat dijadikan sebagai tambahan dari pendapatan masyarakat ataupun devisa Negara. Salah satu komoditi laut yang memilikki nilai komersial tinggi serta memiliki manfaat dan belum banyak diolah adalah kerang Abalon. Khususnya di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara, abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi,. Biota laut ini dikonsumsi segar atau kalengan. Di Indonesia, jenis siput ini belum banyak dikenal masyarakat dan pemanfaatannya baru terbatas di daerah-daerah tertentu, khususnya di daerah pesisir.

Produksi abalon saat ini lebih banyak diperoleh dari tangkapan di alam. Hal tersebut akan menimbulkan kehawatiran terjadinva penurunan populasi di alam. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan usaha budidaya kerang abalon sehingga kebutuhan akan pemanfaatan biota laut ini dapat terpenuhi. Budidaya abalon menjadi alternatif mata pencaharian yang sangat menguntungkan, karena usaha budidaya abalon memerlukan biaya relatif murah. Pakan yang diberikan berupa rumput laut dari jenis Gracillaria dan ulfa yang memiliki nilai ekonomis yang sangat rendah.

4. Jenis-Jenis Budidaya

Jenis-jenis teknik yang umum digunakan pada Budidaya Laut, diantaranya : keramba jaring apung (KJA), rakit gantung, tambak, dan keramba jaring tancap.

5. Ruang Lingkup Budidaya

  1. Oseanografi Fisika (arus, gelombang, pasut)
  2. Oseanografi kimia (Suhu, salinitas, pH, mineral anorganik)
  3. Oseanografi biologi (sebaran nutrien)
  4. Sosial – ekonomi (pemberdayaan ke masyarakat pesisir/petani, pengelolaan produksi, manajemen pemasaran)
  5. Manajemen lingkungan

PROSES KEGIATAN

Dalam proses suatu kegiatan budidaya, terdapat tiga tahapan utama dalam pelaksanaannya, kegiatan ini meliputi:

  1. Pra-budidaya
  2. Budidaya
  3. Pasca-Budidaya

Sebagai contoh, berikut ini merupakan proses kegiatan dari budidaya kerang abalon.

1. Pra-Budidaya

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahapan pra budidaya yaitu sebagai berikut:

a. Sumber Daya Manusia

Merupakan hal penting yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan budidaya. Karena dalam pelaksanaanya, diperlukan sumber daya manusia yang paham dan dapat membantu dalam pengembangan budidaya. Dalam kegiatan budidaya, biasanya, sumber daya manusia yang dikerahkan berasal dari warga sekitar lokasi budidaya, sehingga dapat mudah dilakukan monitoring dan kegiatan budidaya. Dan hal tersebut menambah lapangan baru bagi warga yang ikut berkecimpung dalam kegiatan budidaya yang dilakukan. Namun harus diperhatikan juga, SDM yang memiliki kemampuan tidaklah mudah dibentuk, haruslah dilakukan pelatihan guna pemahaman dalam budiaya yang dilakukan.

b. Modal

Modal yang diperlukan dalam kegiatan budidaya, berbeda-beda. Prakiraan modal yang diperlukan dalam budidaya abalone adalah 20 juta untuk mendapatkan kerang abalone sebanyak 200 kg selama satu tahun. Biaya yang relatif murah, karena biaya murah ditekan oleh pakan yang diperlukan yaitu rumput laut. Dalam permasalahan modal, modal bias didapatkan dari investor, dengan melihat keuntungan yang akan didapat.

c. Pemilihan Lokasi

Kerang abalone hidup pada daerah karang berpasir di sekitar pantai dan jarang bahkan tidak terdapat dimuara sungai. Hal ini yang akan menjadi pertimbangan utama dalam memilih lokasi budidaya kerang abalone. Oleh karena itu, tidak semua lokasi dapat dijadikan sebagai tempat budidaya kerang abalone. Selain factor lokasi, faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan adalah faktor keamanan. Faktor keamanan merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan setiap kegiatan usaha yang dilakukan. Lokasi yang sangat ideal akan tetapi jika faktor keamanan tidak mendukung akan menimbulkan kerugian akibat dari pencurian dan hal ini akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar.

d. Pemilihan Teknik Budidaya

Teknik yang dapat digunakan dalam budidaya kerang abalone adalah metode Keramba Jaring Apung atau metode pen-culture.

Konstruksi KJA


Konstruksi KJA

e. Pasar dan konsumen

Pasar dan konsumen harus diperhatikan sebelum memulai budidaya. Komoditas yang akan di budidayakan diusahakan merupakan komoditas yang diperlukan dan memiliki nilai lebih pada konsumen dan pasaran. Saat ini diketahui, abalone memiliki nilai komersial yang tinggi dan memiliki manfaat dalam bidang kesehatan.

2. Budidaya

a. Seleksi Benih Siap Tebar

Salah satu tahap awal dalam kegiatan budidaya abalon adalah melakukan seleksi benih siap tebar. Tahap ini merupakan suatu tahap yang sangat menentukan keberhasilan kegiatan budidaya abalon. Seleksi benih sebelum penebaran harus dilakukan dengan tepat. Kriteria benih siap tebar untuk budidaya kerang abalon adalah sebagai berikut:

  • Ukuran benih relatif seragam yaitu 1 cm/ekor (ukuran panjang cangkang).
  • Telah mampu memanfaatkan pakan rumput laut segar sebagai makanannya, seperti Gracilaria sp atau Ulva sp.
  • Sensitif terhadap respon dari luar.
  • Cangkang tidak pecah atau cacat.
  • Tidak terdapat luka pada bagian badan/daging.

b. Padat Tebar dan Aklimatisasi

Setelah seleksi benih, maka langkah yang dilakukan sebelum penebaran adalah aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan yang baru. Aklimatisasi mutlak dilakukan sebelum penebaran ke dalam wadah budidaya. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko kegagalan (kematian) saat awal pemeliharaan. Perubahan lingkungan secara tiba-tiba akan dapat menimbulkan stress pada biota, bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Penebaran dan aklimatisasi

c. Pemberian Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menunjang keberhasilan budidaya kerang abalon, kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Jenis pakan kerang abalon adalah seaweed (rumput laut) yang biasa disebut makro-alga. Saat ini, pakan yang terbaik yang diberikan adalah Gracilaria sp yang merupakan makanan favorit untuk kerang abalon. Pada metode KJA, frekuensi pemberian pakan dilakukan 2-3 hari sekali sebanyak 2-5 kg/unit wadah.

Pemberian pakan

d. Pengontrolan dan Penggantian Waring

Gerakan kerang abalon yang sangat lambat juga merupakan suatu titik kelemahan, yaitu mudahnya predator-predator untuk memangsanya. Dengan adanya tindakan pengontrolan, predator-predator dapat langsung dimusnahkan dengan cara pengambilan langsung dari dalam wadah budidaya.

3. Pasca-Budidaya

Panen dan Pemasaran

Pemanenan biasanya dilakukan mulai pada bulan kedelapan. Untuk pemasaran dapat dilakukan di dalam maupun luar negeri dengan kisaran harga jual sekitar Rp. 600.000,- per kg.

Referensi:

Departemen of Fisheries Aquaculture.2001. Farming Abalone. Australia.

http://kekerangan.blogspot.com/2008/09/teknik-budidaya-abalone-haliotis.html

http://mustikalautkidul.wordpress.com/category/pemilihan-lokasi-dan-konstruksi-rakit/

1. Pengertian

adalah alat pengukur kecepatan angin yang banyak dipakai dalam bidang Meteorologi dan Geofisika atau stasiun prakiraan cuaca. Nama alat ini berasal dari kata Yunani anemos yang berarti angin. Perancang pertama dari alat ini adalah Leon Battista Alberti pada tahun 1450. Selain mengukur kecepatan angin, alat ini juga dapat mengukur besarnya tekanan angin itu.

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam sebuah stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari kata Yunani anemos, yang berarti angin. Anemometer pertama adalah alat pengukur jurusan angin yang ditemukan oleh oleh Leon Battista Alberti. Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas: yang mengukur angin dari kecepatan, dan orang-orang yang mengukur dari tekanan angin, tetapi karena ada hubungan erat antara tekanan dan kecepatan, yang dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan memberikan informasi tentang keduanya.

2. Sejarah

Kecepatan atau kecepatan angin diukur dengan anemometer cup, instrumen dengan tiga atau empat logam berlubang kecil belahan ditetapkan, sehingga mereka menangkap angin dan berputar tentang batang vertikal. Sebuah catatan perangkat listrik revolusi dari cangkir dan menghitung kecepatan angin. The anemometer kata berasal dari kata Yunani untuk angin, “anemos.”

Mekanikal Anemometer

Pada 1450, seni Italia arsitek Leon Battista Alberti menemukan anemometer mekanis pertama. Alat ini terdiri dari sebuah disk ditempatkan tegak lurus terhadap angin. Ini akan memutar dengan kekuatan angin, dan dengan sudut kemiringan disk kekuatan angin sesaat menunjukkan itu sendiri. Jenis anemometer yang sama kemudian kembali ditemukan oleh Inggris Robert Hooke yang sering keliru dianggap sebagai penemu pertama anemometer. Bangsa Maya juga membangun menara angin (anemometers) pada saat yang sama seperti Hooke. kredit referensi lain Wolfius sebagai re-inventing anemometer di 1709.

Piala hemispherical Anemometer

The cup anemometer hemispherical (masih digunakan sampai sekarang) diciptakan pada tahun 1846 oleh peneliti Irlandia, John Thomas Romney Robinson dan terdiri dari empat cangkir hemispherical. Cangkir diputar horizontal dengan angin dan kombinasi roda mencatat jumlah revolusi pada waktu tertentu. Ingin membangun sendiri anemometer cup hemispherical

Sonic Anemometer

Sebuah anemometer sonik menentukan kecepatan dan arah angin sesaat (turbulensi) dengan mengukur berapa banyak gelombang suara perjalanan antara sepasang transduser yang dipercepat atau diperlambat oleh pengaruh angin. The anemometer sonik ditemukan oleh ahli geologi Dr Andreas Pflitsch pada tahun 1994.

Wind Komputer “Wicom”

Pada tahun 1986, komputer angin pertama “Wicom” dilahirkan.

3.  Prinsip Kerja

MENGUKUR KECEPATAN DAN ARAH ANGIN

Angin adalah gerakan atau perpindahan masa udara pada arah horizontal yang disebabkan oleh perbedaan tekanan udara dari satu tempat dengan tempat lainnya. Angin diartikan pula sebagai gerakan relatif udara terhadap permukaan bumi, pada arah horizontal atau hampir horinzontal. Masa udara ini mempunyai sifat yang dibedakan antara lain oleh kelembaban (RH) dan suhunya, sehingga dikenal adanya angin basah, angin kering dan sebagainya. Sifat-sifat ini dipengaruhi oleh tiga hal utama, yaitu (1) daerah asalnya dan (2) daerah yang dilewatinya dan (3) lama atau jarak pergerakannya. Dua komponen angin yang diukur ialah kecepatan dan arahnya.

Lamanya pengamatan maupun data hasil pencatatan biasanya disesuaikan dengan kepentingannya. Untuk kepentingan agroklimatologi umumnya dicari rata-rata kecepatan dan arah angin selama periode 24 jam (nilai harian). Berdasarkan nilai ini kemudian dapat dihitung nilai mingguan, bulanan dan tahunannya. Bila dipandang perlu dapat dilakukan pengamatan interval waktu lebih pendek agar dapat diketahui rata-rata kecepatan angin periode pagi, siang, dan malam.

A. Kecepatan Angin

Kecepatan angin adalah jarak tempuh angin atau pergeraakan udara per satuan waktu dan dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/d), kilometer per jam (km/j), dan mil per jam (mi/j). Satuan mil (mil laut) per jam disebut juga knot (kn); 1 kn = 1,85 km/j = 1,151mi/j = 0,514 m/d atau 1 m/d = 2,237 mi/j = 1,944 kn. Kecepatan angin bervariasi dengan ketinggian dari permukaan tanah, sehingga dikenal adanya profil angin, dimana makin tinggi gerakan angin makin cepat. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan alat yang disebut Anemometer atau Anemograf.

Ada beberapa beberapa tipe Anemometer , yaitu :

a. Anemometer dengan tiga atau empat mangkok

Sensornya terdiri dari tiga atau empat buah mangkok yang dipasang pada jari-jari yang berpusat pada suatu sumbu vertikal atau semua mangkok tersebut terpasang pada poros vertikal. Seluruh mangkok menghadap ke satu arah melingkar sehingga bila angin bertiup maka rotor berputar pada arah tetap. Kecepatan putar dari rotor tergantung kepada kecepatan tiupan angin. Melalui suatu sistem mekanik roda gigi, perputaran rotor mengatur sistem akumulasi angka penunjuk jarak tiupan angin. Anemometer tipe “cup counter” hanya dapat mengukur rata-rata kecepatan angin selama suatu periode pengamatan. Dengan alat ini penambahan nilai yang dapat dibaca dari satu pengamatan ke pengamatan berikutnya, menyatakan akumulasi jarak tempuh angin selama waktu dari kedua pengamatan tersebut, sehingga kecepatan anginnya adalah sama dengan akumulasi jarak tempuh tersebut dibagi lama selang waktu pengamatannya.

Jenis anemometer menurut kecepatan terdiri dari :

  • Anemometer piala
  • Anemometer kincir angin
  • Anemometer laser Doppler
  • Anemometer sonik
  • Anemometer bola pingpong
  • Anemometer hot-wire

Jenis anemometer mnurut tekanan terdiri dari :

  • Anemometer piring
  • Anemometer tabung

b. Anemometer propeler

Anemometer ini hampir sana dengan anemometer di atas, bedanya hanya    mangkoknya terpasang pada poros horozontal.

c. Anemometer tabung bertekanan.

Kerja Anemometer ini mengikuti prinsip tabung pitot, yaitu dihitung dari tekanan statis dan tekanan kecepatan Sehubungan dengan adanya perbedaan kecepatan angin dari berbagai ketinggian yang berbeda, maka tinggi pemasangan anemometer ini biasanya disesuaikan dengan tujuan atau kegunaannya. Untuk bidang agroklimatologi dipasang dengan ketinggian sensor (mangkok) 2 meter di atas permukaan tanah. Untuk mengumpulkan data penunjang bagi pengukuran penguapan Panci Kelas A, dipasang anemometer setinggi 0,5 m. Dilapangan terbang pemasangan umumnya setinggi 10 m. Dipasang didaerah terbuka pada pancang yang cukup kuat. Untuk keperluan navigasi alat harus dipasang pada jarak 10 x tinggi faktor penghalang seperti adanya bangunan atau pohon. Sebagian besar Anemometer ini umumnya tidak dapat merekam kecepatan angin dibawah 1 atau 2 mi/j karena ada faktor gesekan apa awal putaran.

2. Arah Angin

Yang dimaksud dengan arah angin adalah arah dari mana tiupan angin berasal. Bila angin itu datang dari Selatan, maka arah anginnya adalah Utara, datangnya dari laut, dinyatakan angin laut. Arah angin untuk angi di daerah permukaan biasanya dinyatakan dalam 16 arah kompas yang dikenal dengan istilah Wind Rose, sedangkan untuk angin di daerah atas dinyatakan dengan derajat dimulai dari arah Utara bergerak searah jarum jam sampai di arah yang bersangkutan. Bila tidak ada tiupan angin maka arah angin dinyatakan dengan kode 00 dan bila angin berasal dari titik utara dinyatakan dengan 3600. Arah angin tiap saat dapat dilihat dari posisi panah angin (Wind Vane), atau dari posisi kantong angin (Wind Sack). Pengamatan dengan kantong umumnya dilakukan dilapangan terbang. Untuk dapat memberikan petunjukan arah yang lebih mudah dilihat maka panah angin dihubungkan  dengan sistem aliran listrik sehingga posisi panah angin langsung ditunjukan oleh jarum pada kotak monitornya. Perkembangan lebih lanjut dari sistem ini menghasilkan rekaman pada silinder berpias. Panah angin umumnya dipasang bersama dengan mangkok anemometer dengan ketinggian 10 meter.

Video Anemometer

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Anemometer

http://inventors.about.com/od/astartinventions/a/Anemometer.htm

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081017031238AAfkn08

http://mirror.unpad.ac.id/orari/pendidikan/materi-kejuruan/pertanian/mekanisasi-pertanian/pengantar_klimatologi_pertanian.pdf

shafiyyah.blog.uns.ac.id/files/2009/06/abauku.doc

http://wikieinfo.blogspot.com/2009/04/anemometer.html

http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/9325/1/G06dpa_abstract.pdf


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!